Monday, August 27, 2007

Resensi / Sinopsis / Review Novel " PUSARAN ARUS WAKTU "

PUSARAN ARUS WAKTU

Penerbit: Tiga Serangkai, Agustus 2007
Penulis: Gola Gong

Namaku Lazuardi. Aku mempunyai empat sahabat; Boy, Dini, Rizal, dan Ery. Kami adalah sekelompok anak-anak yang sudah dikarunia kehormatan ketika lahir, tapi haus akan kasih sayang orang tua. Terutama seorang Ibu. Papa kami sibuk dengan segala rapat negara, kunjungan ke beberapa wilayah di pelosok negeri, bahkan ke mancanegara. Sedangkan Mama kami sibuk facial,luluran, membeli perhiasan terbaru, liburan di negara tetangga sambil shoping dan larak sana-sini menggoda lelaki muda. Papa kami dungu seperti keledai. Mereka sudah buta mata dan hati. Padahal di koran-koran negeri ini sering membicarakan mereka yang tidak becus mengurusi negeri. Mereka hanya molor saja saat rapat di gedung rakyat. Mulut manis, hatinya berbisa. Selalu meributkan fasilitas yang tidak pernah dianggap cukup. Orangtua kami adalah orang-orang yang tidak mau menderita seperti rakyatnya. Kami memang sekelompok anak panah yang kehilangan busur. Kami anak-anak yang dihimpit skandal orangtua sendiri. Kami anak-anak yang limbung, merindukan belaian kasih rindu sang Ibu. (Suara lubuk hati
Lazuardi, 18 tahun, yang terpendam)

Ini adalah perjalanan ketiga Lazuardi menyusuri lorong-lorong labirin kehidupannya. Kadang dia tersesat, tapi kadang dia menemukannya. Dia terdampar di sebuah kampung yang kepemilikannya bersengketa dengan pengusaha gurita dari Jakarta. Juga dia tersedot ke suasana komidi putar, hiburan rakyat kebanyakan. Apa yang harus dia lakukan? Akankah dia jadi dewa penolong atau sekedar penonton di pinggir jalan saja?
Berhasilkah orang-orang suruhan ayahnya menangkapnya? Berakhir hingga di sinikah pencarian identitas jati dirinya?
***

APA KATA MEREKA:
Ini novel sequel yang menarik dan menyentuh perasaan. Pergulatan manusia dengan "sang nasib" dikisahkan dengan gaya bertutur yang mengalir, romantic, dan semipopuler khas Gola Gong. Sebuah bacaan yang menghibur sekaligus mencerahkan. (Ahmadun Yosi Herafanda, Sastrawan dan Redaktur Sastra Harian Republika)

Gola Gong piawai bercerita. Ia dengan mudah meneggelamkan atau melambungkan suasana hati pembaca. Apapun jenis cerita yang ditulisnya. (Akmal Nasey Basral, jurnalis, penulis novel Imperia)

Novel-novel Gola Gong mampu mewakili semangat geerasinya. Ia bertutur, bahwa setiap genrasi punya tantangan dan jawaban masing-masing atas persoalan kehidupannya. (Hikmat Kurnia, Pekerja Perbukuan)

Balada Si Roy, lewat itu saya mengenal Gola Gong. Satu-satunya penulis Indonesia serial petualangan yang saya ketahui. Tanpa terasa, tokoh Roy telah mengilhami orang khususnya saya, untuk tergerak dan juga bergerak. Tokoh Roy telah mengajarkan, bahwa alam adalah guru yang baik, demikian juga pengalaman. (Butet Manurung, guru anak rimba)

Gola Gong bukan hanya menulis apa yang ditangkap mata, tetapi juga hatinya. (Asma Nadia, Penulis novel, peraih Adhikarya IKAPI, CEO Penerbit Lingkar Pena)

***

Terakhir aku menulis "Labirin Lazuardi 2: Ketika Bumi Menangis" pada 23 Februari 2007. Saat itu kondisi tubuhku masih sakit-sakitan. Punggungku, persis di lumbar 5, mengalami pengapuran dan menjepit kedua saraf tepi kakiku. Terutama kaki kiri. Setiap hari aku melakukan terapi. Jika duduk tidak sanggup lama. Akibatnya "Labirin Lazuardi 3: Buih Sagara Biru" terbengkalai. Materi yang aku siapkan teronggok. Aku tidak mampu
merangkainya.

Aku lalui hari-hari dengan terapi dan berkebun. Ke kantor pun sesekali saja. Aku menolak undangan menjadi pembicara di luar Serang. Aku tidak sanggup melakukan perjalanan jauh. Paling-paling sebatas jakarta saja.Terasa bosan hidupku. Tapi, aku masih menyempatkan diri mengajar di Kelas Menulis Rumah Dunia, karena lokasinya di halaman belakang rumahku. Untuk Rumah Dunia, insya Allah, segala yang aku miliki, aku persembahkan semampuku.

Aku mengetik sehari paling 1 atau 2 halaman. Hari berlalu, bulan berganti. Semangatku mulai bangkit memasuki awal Mei 2007 ketika buku "Labirin Lazuardi 1: Langit Merah Saga" sudah ditanganku. Novel serial keduaku setelah "Balada Si Roy". Cover "Labirin Lazuardi 1: Langit Merah Saga" yang dibuat Bambang Damayanto begitu magis. Penuh misteri. Membuat darahku bergolak. Itu aku buktikan dengan mendatangi stand Penerbit Tiga Serangkai di Pesta Buku Jakarta 2007, pada saat pembukaan 2 Juni. Aku berdiri di sana dan menyapa para pengunjung pameran. Beberapa pembaca novelku mampir dan kami berbincang-bincang. Beberapa orang membeli dengan kububuhi tanda tanganku. Aku merasa lebih sehat, walaupun sebetulnya dari mulai pinggang hingga ke kaki kiriku terasa sakit.

Masih dalam kondisi sakit, di sela-sela terapi, aku menyempatkan mengetik lebih banyak lagi. Sebetulnya aku dilarang bekerja. Tapi, apa mungkin? Hidup adalah perjuangan. Perlu kerja keras. Kunjungan Asma Nadia dan Hilman Lupus di awal Februari 2007 dengan memberiku bantuan dana - dari teman-teman Forum Lingkar Pena dan sesama mantan Pengarang Remaja Gramedia - untukku berobat membuatku malu. Aku sebetulnya tidak pantas menerima sumbangan itu. Tapi, melihat niat baik mereka, aku patut
bersyukur, karena itu sangat membantuku. "Mas Gong harus sembuh," kata Asma, "agar terus bisa memotivasi kami, jugaanak-anak Rumah Dunia." Aku terharu mendengarnya. Aku merasa tidak sendirian.

Tapi, aku tidak tahan kalau tidak menulis. Tiada hari tanpa menulis. Selain pekerjaan kantor, "Labirin Lazuardi" mengusikku terus. Akhirnya aku mengetik lagi sambil sesekali diselingi rebah-rebahan dan berjalan meluruskan punggung. Tias membantuku menjadi pembaca pertama; Tias mengoreksi dan menambahi dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Terutama sajak-sajak pembuka. Aku ingin novelku ini tetap dengan ciri khasku; selalu ada sajak pembuka.

Maka menu ketika "Labirin Lazuardi: Buih Sagara Biru" aku hidangkan, terasa ada sesuatu yang lain, yaitu kerinduan seorang anak terhadap ibunya. Silahkan para pembaca meraciknya sendiri. Semoga setelah membaca buku ini ada sesuatu yang membekas. Semoga bisa menjadi cermin bagi kita semua. Terutama aku. Selamat membaca dan berbahagia. (*)

Resensi / Sinopsis / Review Novel " Daughter of God "

Judul: Daughter of God
Segitiga Misteri: Konstantin, Vatikan & Putri Tuhan

Karya: Lewis Perdue

Dari Penulis

Saya terlahir dan dibesarkan di Mississippi, di mana Yesus dan sepak bola menjadi dua hal yang sangat penting. Baik agama, maupun pertandingan Ole Miss/State adalah topik pembicaraan yang tidak akan pernah berakhir, menimbulkan rasa cemas, kebahagiaan, kemarahan, ketakutan, kebencian yang dalam, dan perdebatan karena adanya ide yang menyebutkan bahwa wanita tidak memiliki kemampuan untuk menangani kedua obsesi itu.

Karena dibesarkan sebagai seorang Presbyterian dari selatan, saya menjadi semakin kehilangan antusiasme saat menginjak dewasa. Ketikamulai bergabung dengan gerakan hak-hak sipil pada tahun 1960-an, saya dengan segera melihat betapa agama itu-tidak hanya di selatan, tapi secara global-telah menjadi alat praktis bagi kontrol sosial dengan kitab-kitab suci dan buku-buku yang diselewengkan dan dipilah-pilah dengan penuh kehati-hatian untuk menemukan bagian-bagiannya yang bisa mendukung penjajahan rasial dan seksual serta perasaan chauvinisme religius yang mengesampingkan keyakinan lain sebagai sebuah kebenaran.

Aktivitas saya dalam bidang hak-hak sipil membuat saya terkucil- seorang remaja berkulit putih-dari kebanyakan teman-teman yang lain. Tapi dengan segera saya bisa memiliki teman-teman lain yang mempunyai kesamaan-kebanyakan orang-orang kulit hitam dan Yahudi-yang berlatar belakang dan berbudaya yang pada awalnya asing, tapi pada akhirnya begitu membebaskan dan memberikan pencerahan.

Keingintahuan saya tentang agama semakin berkembang. Keingintahuan yang begitu besar yang terpuaskan dengan mempelajarinya di bidang studi agama dan filosofi di perguruan tinggi. Saya semakin memahami bahwa, seperti perusahaan, pemerintahan, dan institusi lainnya, gereja-gereja juga mengembangkan sistem birokrasinya sendiri, momentum untuk menyokong dirinya sendiri, dan rasa hausnya akan kekuasaan yang kemudian mendorong
mereka melakukan tindakan-tindakan berdasarkan kepentingan mereka sendiri dan menyebabkan pandangan mereka teralihkan dari fokus utamanya,yaitu membimbing jemaah menuju kondisi spiritual yang baik.

Dari sini kita bisa melihat dengan mudah bahwa perselisihan antaragama bukanlah perselisihan antarpenganutnya, tapi malah perselisihan yang disebabkan oleh birokrasi, politik, dan ambisi budaya gereja dan para pemimpin politik yang memaksakan agenda pribadi mereka untuk mencapai kekuasaan dan kejayaan. Tanpa malu-malu lagi mereka melakukan pelecehan agama, menggunakan Tuhan untuk memenuhi ambisi pribadi mereka sendiri-sendiri.

Para pemimpin gereja dan sekutu politik mereka telah berbohong, membunuh, melukai, membantai, memaksa, mengancam, dan memulai perang suci untuk mengonsolidasikan kekuasaan mereka. Mereka telah memutarbalikkan kitab suci dan menulis ulang sejarah untuk menyampaikan niat mereka. Dan mereka semua telah memberangus wanita meskipun orang telah melihat Tuhan sebagai seorang perempuan jauh lebih lama daripada
melihat Tuhan sebagai seorang laki-laki.

Memang Pencipta alam semesta Yang Mahakuasa ini tidak mungkin untuk dinilai sebagai laki-laki atau perempuan. Melihat Tuhan hanya sebagai laki-laki adalah tindakan melecehkan Tuhan.

Daughter of God adalah cara saya untuk melihat semua ini. Saya menulisnya dalam bentuk thriller karena itu adalah cara yang paling menyenangkan bagi seorang penulis menuangkan kata-katanya di depan komputer. Saya harap kecintaan saya yang tidak akan berubah ini tersampaikan pada setiap pembaca.

Review Buku: Daughter of God
Oleh Harriet Klausner

Kristen sangat meyakini bahwa Kristus adalah seorang putra Tuhan. Vatikan menutup-nutupi bahwa mereka meyakini adanya Juru Selamat Sophia yang hidup di masa lalu. Tahun 310 M orang-orang suruhan Raja Konstantin membunuh Sophia karena takut keberadaannya akan mengguncang Kekaisaran Roma dan Tahta Suci.

Pada masa kini, seorang mantan Nazi yang sudah sekarat meminta seorang pialang benda seni bernama Zoe Ridgeway untuk mengembalikan koleksi benda seni curian yang dirampasnya selama masa perang kepada pemiliknya yang berhak. Ia juga menginginkan suami Zoe untuk menerjemahkan kisah Sophia ke dalam bahasa Inggris.

Namun, sebelum mereka memulai, seseorang mencuri benda seni itu, membunuh "pemiliknya", dan menculik Zoe. Catatan hidup Sophia lenyap. Mafia Rusia menahan Zoe. Beberapa orang utusan dari Vatikan menginginkan Sophia's Passion (sebuah kotak emas yang berisi catatan hidupnya). Seth ingin agar Zoe dikembalikan padanya dalam keadaan selamat. Tapi ia menyadari bahwa dirinya dan istrinya, bagi Vatikan, sudah tahu
terlalu banyak tentang Sophia sehingga mereka kemungkinan tak akan dibiarkan hidup.

DAUGHTER OF GOD adalah sebuah thriller penuh aksi yang berkaitan dengan pencurian benda seni, konspirasi yang sudah terjalin selama lebih dari satu milenium, dan seorang filsuf religius. Aksi-aksi dalam kisah ini bergerak laju, karakter-karakternya membawa alur cerita menuju kesimpulan yang memuaskan. Para pembaca akan terus mengikuti perjalanan Zoe dan Seth sambil terus menikmati dan memahami motif para tokoh antagonis (pihak Rusia dan Vatikan). Hal ini memungkinkan terwujudnya rangkaian cerita yang padat.

Lewis Perdue
Daughter of God

Lewis Perdue menggabungkan Nazi, dunia seni, dan rumitnya hubungan antara keimanan dan praktik-praktik lainnya dalam thriller Daughter Of God.

Zoe Ridgeway, seorang ahli sejarah seni dan juga seorang pialang,menerima tawaran yang tidak bisa ditolaknya: kesempatan untuk mengelola koleksi milik Willi Max, seorang kolektor seni yang kaya raya. Koleksi seni ini terdiri atas benda-benda seni yang bernilai sangat tinggi, hasil curian Nazi selama masa berkuasanya rezim Hitler. Berangkat dari keinginan Max sebelum ia meninggal, Zoe harus mengembalikan koleksi
benda seni itu sebisa mungkin kepada para pemiliknya yang sah. Lebih dari itu, Max juga menyerahkan sebuah teka-teki, sebuah petunjuk menuju rahasia religius yang bisa mengubah agama Kristen secara drastis, dan yang coba ditutup-tutupi oleh agen-agen Vatikan.

Harapannya adalah Zoe, dengan bantuan suaminya, Seth, seorang mantan polisi yang beralih menjadi seorang profesor filosofi dan perbandingan agama, bisa menyingkap benda peninggalan dari Juru Selamat kedua yang meninggal dunia pada abad keempat Masehi. Benda peninggalan itu berasal dari seorang gadis berusia 15 tahun bernama Sophia yang dieksekusi saat ia memperlihatkan bukti sifat keilahiahannya. Ini membuat Zoe dan Seth sangat bersemangat meskipun mereka berdua sama sekali tidak membayangkan
bahwa mereka akan terjebak dalam jaringan penculikan, penipuan, dan pembunuhan. Berbagai kelompok yang memiliki kepentingan terhadap benda peninggalan itu tidak akan berhenti untuk bisa mendapatkannya.
Sementara itu, pasangan suami-istri Ridgeway ini terjebak di tengah kemelut itu dan dipaksa untuk terus berjuang mempertahankan nyawa mereka.

Daughter of God adalah kisah yang alur ceritanya begitu padat. Sangat menyenangkan dan memprovokasi pemikiran kita. Daughter of God sangat menyentuh dan hampir mustahil untuk tidak dibaca. Anda akan butuh tidur setelah begadang membaca buku ini

Dari Publishers Weekly

Pencurian benda-benda seni oleh Nazi sampai pada tahap yang begitu menegangkan ketika akhirnya mengungkap sebuah rahasia religius yang efeknya sedemikian menghancurkan sehingga bisa memorak-porandakan Vatikan dan meluluhlantakkan agama bangsa Barat. Seorang anggota Nazi yang sekarat dan merasa bersalah, Willi Max, memanggil seorang ahli sejarah/broker benda-benda seni berkebangsaan Amerika, Zoe Ridgeway, ke Swiss di mana ia mengungkap keberadaan benda-benda seni curian dan menyewa Zoe untuk menyusun katalog dan mengembalikan benda-benda seni itu kepada para pemiliknya atau ahli waris mereka. Tak lama setelah Zoe menceritakan hal ini pada suaminya, Seth-seorang mantan detektif di LA yang beralih profesi menjadi seorang profesor perbandingan agama di
UCLA-tentang pekerjaan yang menarik ini, ia diculik dari kamar hotelnya di Zurich. Pihak kepolisian Swiss yang menganggap remeh kejadian ini tidak banyak melakukan pencarian sehingga akhirnya Seth mengambil alih pencarian ini. Lalu diketahui bahwa Willi Max tewas saat kebakaran menghancurkan rumah mewahnya beberapa jam setelah Zoe bertemu dengannya.

Sebuah benda peninggalan religius yang sungguh-sungguh dirahasiakan oleh Vatikan selama berabad-abad: kain kafan yang pada permukaannya tergambar sosok seorang gadis, Juru Selamat kedua. Putri Tuhan ini terbunuh,bersama dengan seluruh desanya, pada masa Konstantin karena jenis kelaminnya dan kemampuannya untuk menyembuhkan yang mengancam agama Kristen yang masih tergolong baru. Saat Nazi menemukan kain kafan
itu, Hitler memanfaatkannya untuk memeras Paus Pius agar tutup mulut tentang
kekejaman Nazi. Seth satu-satunya orang yang memiliki akses. Tak lama setelah itu, pimpinan agen intelijen Vatikan, mafia Rusia, dan agen-agen lainnya memburu Seth untuk membunuhnya. Kisah Perdue mengenai keserakahan dan kekuasaan mengangkat tokoh-tokoh utamanya dan para tokoh antagonis dengan motif yang meyakinkan. Dengan segera ia berpindah-pindah antara Swiss dan LA, menempatkan Zoe dalam ancaman
bahaya, tapi dengan kecerdasannya ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang pemberani yang selamat dari perang ikut mewarnai kisah ini.

Dari Booklist

Perdue, mantan reporter investigasi, menghabiskan waktu bertahun-tahun melacak jejak benda-benda seni yang hilang di seluruh penjuru Eropa. Nilai pengalaman itu terlihat jelas dalam thriller tentang Sophia yang mengesankan dan tidak akan bisa lepas dari perhatian Anda, seorang perempuan Juru Selamat yang terlahir tiga abad setelah Kristus.Keberadaan Sophia yang sungguh-sungguh nyata, mukjizatnya dalam penyembuhan, dan fakta bahwa ia menarik beberapa pengikut merupakan ancaman besar bagi dogma religius yang memperlakukan wanita sebagai makhluk inferior. Ancaman itu berakhir dengan kematiannya-setidaknya demikianlah anggapan pihak gereja-dan keberadaannya tetap menjadi rahasia yang ditutup rapat-rapat oleh Vatikan sampai para penjarah
benda-benda seni menemukannya tanpa disengaja.

Waktu berjalan terus hingga tiba masa sekarang. Zoe Ridgeway, seorang ahli dan broker benda seni berada di Swiss untuk mengurusi koleksi benda-benda seni milik seorang Jerman yang sedang sekarat. Kematian orang berkebangsaan Jerman ini dipercepat oleh hadirnya pihak luar, termasuk gangster Rusia, agen-agen Amerika, dan seorang kardinal yang ingin menjadi Paus. Semua itu adalah pihak-pihak yang mencari bukti keberadaan Sophia. Zoe diculik oleh orang-orang Rusia dan hampir saja dibunuh sebelum semuanya tiba pada tahap akhir yang penuh dengan kejutan. Perdue memaksimalisasi tema-tema yang begitu mengguncang pada setiap tahap dalam apa yang disebut dengan thriller yang luar biasa. Kisah ini akan menghadirkan malam-malam yang membuat kita terjaga.

Dari Kirkus Reviews

Perdue, mantan jurnalis investigatif, yang ahli dalam penemuan benda-benda seni yang hilang di Eropa menawarkan sebuah thriller tentang sebuah rahasia yang mengguncang dunia dan ditutup rapat-rapat oleh Gereja Katolik selama 1600 tahun. Seorang broker benda seni, Zoe Ridgeway, pergi ke Swiss bersama dengan suaminya, Seth, seorang
profesor perbandingan agama di UCLA, setelah ditelepon oleh Willi Max,seorang kolektor benda seni yang sedang sekarat yang memiliki mansion yang penuh dengan karya seni. Max, seorang mantan Nazi yang dipercayakan untuk menyimpan benda-benda seni curian itu, ingin menebus perasaan bersalahnya atas disembunyikannya karya-karya Leonardo dan Vermeer dari khalayak umum dan juga atas disembunyikannya dokumen-dokumen dari masa Kaisar Konstantin yang menyatakan kebenaran keberadaan Juru Selamat kedua selama masa Konstantin berkuasa serta keberadaan kain kafan
kedua, kain kafan yang lebih meyakinkan dari pada kain kafan Turin.

Tak lama setelah Max memberikan dokumen ini pada Zoe, yang menerimanya dengan perasaan sinisme feminis, dan Seth, yang merupakan seorang religius yang diliputi keragu-raguan, benda-benda seni bernilai tinggi itu dicuri dari mereka dan Zoe diculik. Sementara itu, Vatikan, tempat di mana Congregation for the Doctrine of the Faith (CDF) memiliki pengaruh kuat dan memertahankan kebenaran keimanan mereka dari
kebenaran lain yang berlawanan dengannya, mengingat-ingat masa saat Sophia muncul di sekitar periode terjadinya perselisihan Keuskupan Nicea saat mereka menyusun doktrin gereja, di mana Sophia mulai berkhotbah, menyembuhkan,dan menunjukkan mukjizatnya sebelum ia dibunuh demi menyelamatkan doktrin yang bersifat amelioratif yang dikeluarkan dan ditegakkan oleh Konstantin. Satu doktrin: bahwa Yesus satu substansi dengan Tuhan.Perdue berargumen bahwa Sophia atau 'Kebijaksanaan' adalah juga Logos
dalam Trinitas Kristen sebelum secara resmi diputuskan menjadi laki- laki secara keseluruhan. Kisah ini ditulis secara persuasif dan merupakan fiksi berdasarkan fakta yang akan selalu melekat pada pokok persoalan tentang keimanan yang lebih ditentukan oleh kepentingan politik daripada nilai-nilai spiritual.

Daughter of God

Rahasia yang sudah sekian lama tersimpan rapat-rapat terkuak sudah-sebuah rahasia yang jika terungkap dapat menghancurleburkan fondasi masyarakat modern, mengubah peta kekuatan dunia, dan menyulut kekerasan yang berakar pada masalah keagamaan yang belum pernah disaksikan selama berabad-abad.

Apakah yang dimaksud dengan rahasia itu? Bukti tak terbantahkan lagi dari eksistensi seorang wanita Juru Selamat bernama Sophia. Sophia, yang dilahirkan di Tanah Suci pada tahun 310 M, dikenal dengan keajaiban-keajaibannya dalam praktik penyembuhan yang dilakukannya. Keilahiahannya begitu mengancam dogma awal tentang inferioritas
wanita sehingga ia dihukum oleh penguasa pada saat ia masih seorang anak kecil.

Di masa kini seorang pialang benda seni bernama Zoe Ridgeway mengunjungi Swiss bersama dengan suaminya, Seth. Ia bermaksud untuk membeli benda seni milik seorang kolektor. Tapi sebelum berhasil menyelesaikan transaksinya, ia dan Seth tenggelam dalam sebuah jaringan konspirasi yang berusia ribuan tahun, pembunuhan, intrik yang berporos pada misteri Sophia, dan semua kekuatan yang muncul untuk melindungi kekuasaan patriarkal mereka dari kebenaran kesucian seorang wanita.

Seberapa Jauh Kebenaran Buku Ini?

Daughter of God adalah kisah fiksi yang berdasar pada fakta yang mudah untuk dilacak kebenarannya. Sebagai contoh, kisah-kisah nyata tentang pencurian benda-benda seni dan bagaimana para tentara Amerika Serikat yang melarikan diri menggunakan benda seni hasil jarahan untuk membeli kebebasan mereka. Faktanya, banyak karya seni yang hilang selama masa perang tergantung di dinding kastil-kastil di Pegunungan Alpen. Dan masih banyak lagi dari benda-benda seni itu yang berada di bawah jalan-jalan di kota Zurich.

Saya melihatnya sendiri, karya-karya seni itu luar biasa bernilai. Jauh, jauh lebih bernilai daripada nyawa seseorang yang menanyakan pertanyaan yang salah. Nyawa saya terancam di Zurich karena terlalu banyak bertanya.

Beberapa bagian dari buku ini yang berkaitan dengan Konferensi Nicean, kejadian-kejadian, dan kontroversi religius yang mengawalinya adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Buku yang berjudul Hitler's Pope, yang ditulis oleh John Cornwell, membuat semuanya menjadi lebih menarik lagi.

Para pelajar yang mempelajari sejarah, teologi, geografi, dan ilmu politik akan menemukan banyak sekali hal yang sungguh-sungguh nyata dalam buku ini.

Apakah Sophia Itu Sungguh-sungguh Ada?

Sophia berarti 'kebijaksanaan' dalam bahasa Yunani. Kalau Anda membaca Injil, Amsal pasal 8, Anda akan menemukan kata her. Sophia-lah yang dimaksud di sana.

Bagi masyarakat Yunani kuno dan Gereja Ortodoks Timur saat ini, Sophia sangatlah nyata. Ia adalah seorang wanita yang ada dalam sejarah atau sebuah konsep yang diwujudkan dalam sosok perempuan. Versi awal dari kitab suci mengindikasikan bahwa Roh Kudus dalam Trinitas Kristen adalah Sophia.

Dari Mana Anda Beroleh Ide untuk Menulis Daughter of God?

Saya bisa berterima kasih pada para mantan Nazi yang mengancam untuk membunuh saya. Saya selalu menulis novel berdasarkan fakta-fakta yang solid sehingga persiapan penulisan Daughter of God ini melibatkan investigasi sejarah yang luar biasa banyak dan riset yang dilakukan secara langsung di U.S. National Archives mengenai Art Looting Investigative Unit dari OSS (cikal-bakal CIA di masa Perang Dunia II).
Tujuan yang saya tetapkan dalam riset ini adalah menemukan lokasi,paling tidak, satu lukisan yang jatuh ke tangan Nazi.

Tapi pada suatu hari yang mendung dan bersalju di Munich, investigasi saya menemui jalan buntu di mana jejak benda seni yang dicuri oleh Nazi sudah semakin dingin, lebih dingin daripada cuaca di bulan Desember.

Sebelum hari itu berakhir, saya duduk di dalam sebuah gudang tua tempat penyimpanan bom dan bertemu dengan salah seorang ajudan Hitler.

Lewis Perdue

Selain menjadi penulis, Lewis Perdue adalah presiden IdeaWorx, sebuahperusahaan pemasaran dan e-commerce. Ia pernah menjadi asisten utama senator dan gubernur, juga mengajar jurnalistik di Corness dan UCLA. Ia kini tinggal di Sonoma, California, bersama istri dan dua anaknya.

Perdue menulis novel ini berdasarkan fakta. Pengalaman pribadinya ketika berusaha melacak keberadaan benda-benda seni yang hilang, ia suguhkan sebagai salah satu bukti. Ia memutuskan untuk berhenti melacak keberadaan benda-benda seni itu setelah mendapati gelagat yang kurang baik, kemarahan, dan beragam ancaman kekerasan yang datang dari berbagai pihak.

Wawancara dengan Lewis Perdue

Daughter of God Ini Mengenai Apa?

Saat seorang ahli benda-benda seni, Zoe Ridgeway, diminta datang ke Zurich untuk memeriksa koleksi bernilai tinggi berupa lukisan, pahatan, dan artefak religius yang diperoleh secara ilegal, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan terjebak dalam sebuah pencarian yang telah berlangsung berabad-abad akan sebuah peninggalan religius bernilai tinggi yang sudah memorak-porandakan sejarah setiap kali muncul ke
permukaan.

Peninggalan religius bernilai tinggi ini adalah sebuah bukti yang tak terbantahkan dari keberadaan seorang Juru Selamat, seorang wanita bernama Sophia. Setelah diculik dari hotelnya, Zoe terjebak dalam sebuah konspirasi, pembunuhan, intrik yang berporos pada misteri Sophia, dan semua kekuatan yang mencarinya untuk melindungi kekuasaan patriarkal mereka dari kebenaran kesucian seorang wanita.

Sementara Zoe berjuang untuk membebaskan dirinya, suaminya, seorang mantan detektif-polisi bernama Seth Ridgeway, berusaha keras untuk menemukan dirinya. Tapi organisasi rahasia yang memiliki hubungan baik dengan badan intelejen AS dan Vatikan juga memburunya.

Zoe dan Seth berada di sebuah petualangan keimanan dan bertujuan untuk menghindarkan benda suci itu dari pihak-pihak jahat yang terus ingin memanfaatkannya. Mereka dibimbing oleh seorang pendeta tua yang terakhir kali melihat tempat penyimpanan peninggalan religius Sophia setengah abad yang lalu.

Dari Mana Anda Beroleh Ide untuk Menulis Daughter of God?

Saya bisa berterima kasih pada para mantan Nazi yang mengancam untuk membunuh saya. Keputusasaan sudah menjadi sumber inspirasi saya selama ini. Sebagai seorang reporter investigatif di Washington DC, setelah skandal penyuapan Koreagate pada akhir tahun 1970-an, saya memperoleh dokumen yang sudah disobek-sobek oleh seorang pelaku-kunci skandal itu, Tongsun Park. Akhirnya saya menemukan cara untuk menyatukan lagi dokumen itu.

Meskipun menghadapi tantangan teknis, ancaman dari pihak CIA-nya Korea, dan percobaan dari komite etika untuk menyingkirkan sobekan-sobekan itu, saya berhasil menyatukannya dan mengolahnya menjadi sebuah seri artikel-artikel yang berhasil membantu mengirimkan beberapa orang pelaku ke dalam penjara.

Saya selalu menulis novel berdasarkan fakta-fakta yang solid sehingga persiapan penulisan Daughter of God ini melibatkan investigasi sejarah yang luar biasa banyak dan riset yang dilakukan secara langsung di U.S.
National Archives mengenai Art Looting Investigative Unit dari OSS (cikal-bakal CIA di masa Perang Dunia II). Tujuan yang saya tetapkan dalam riset ini adalah menemukan lokasi, paling tidak, satu lukisan yang jatuh ke tangan Nazi.

Sekitar enam tahun setelah pengalaman saya dengan kasus Koreagate- yang mengajarkan bahwa keputusasaan adalah teman bagi saya-pada suatu hari yang mendung dan bersalju saya berada di Munich di mana jejak benda seni yang dicuri oleh Nazi sudah semakin dingin, lebih dingin daripada cuaca di bulan Desember.

Semua petunjuk mengarah ke Munich. Dan semuanya menghilang di sana juga.
Saya ingat saat itu saya merasa sangat tertekan karena sudah menempuh perjalanan sedemikian jauh dan ternyata menemukan bahwa semua jalan sudah tertutup.

Bagaimana Anda Bertemu dengan Nazi Tua Itu?

Setiap kali merasa gagal, saya hanya berjalan, berjalan, dan berpikir. Saya berjalan selama berjam-jam pada hari itu. Tiba-tiba saja, tanpa berpikir sebelumnya, saya menyadari bahwa diri saya berdiri di depan kantor Abend Zeitung-Afternoon Daily Times. Mungkin di sana ada seorang reporter, seorang wartawan seperti saya yang mungkin bisa menunjukkan arah yang benar. Saya adalah seseorang yang agak agnostik semi-religius, sama sekali tidak tertarik dengan rasisme yang hipokrit dan logika
yang ngawur yang saya dapat di lingkungan Protestan fundamentalis di Mississippi di mana saya dibesarkan.

Hanya saja sekarang, setelah lebih dari lima belas tahun kemudian, saya mulai percaya bahwa langkah-langkah saya pada hari itu sudah dibimbing. Saya berjumpa dengan Werner Meyer, seorang mantan tentara Jerman pada masa Perang Dunia II yang memperoleh gelar sarjananya di bidang jurnalisme di Amerika Serikat dan juga kebetulan sama-sama memiliki hobi melacak kembali catatan musik asli dari komposer Wagner. Catatan
musik yang hilang dan jatuh ke tangan Nazi juga.

Meyer memperkenalkan saya pada Heinrich Heim, seorang Nazi tua yang tinggal sendiri di gudang penyimpanan bom PD II yang dingin. Heim adalah ajudan penting Hitler yang menangani pencurian benda-benda seni. Pada akhir percakapan yang luar biasa dengannya, saya berhasil membawa pulang sebuah foto dan dokumen yang dulu pernah menjadi bagian dari file-file Hitler yang sangat berharga. Salju dan hujan yang dingin membasahi kami sore itu saat kami memarkir mobil Werner di sebuah tanah yang tak berlapis batu dan berjalan menyusuri gang yang penuh dengan kertas-kertas berserakan dan diterangi oleh bola lampu jalan.

Werner mengetuk sebuah lempengan pelindung terbuat dari besi yang berfungsi sebagai pintu depan tempat tinggal Heim.

Werner mengatakan pada saya bahwa Heim hidup terus-menerus di bawah bayang-bayang teror dari orang-orang Israel karena-meskipun ia mengabdikan dirinya beberapa saat di penjara sekutu-ada banyak orang yang percaya bahwa ia juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang secara moral sangat kejam, lebih kejam daripada menjadi ajudan utama Hitler yang mengoordinasi pencurian benda-benda seni. Setelah beberapa menit, Heim mendekati pintu, dan setelah mengalami kesulitan untuk mendorong batas pelindung itu, ia menyambut kedatangan kami.

Ungkapan 'membungkuk tapi tidak menyerah kalah' sungguh tepat dalam menggambarkan Nazi tua ini. Sekilas, ia tampak seperti gelandangan. Ia mengenakan dua helai jaket panjang, sweater bekas yang pernah dimiliki beberapa orang sebelumnya, dan kemeja. Tapi mata Heim yang berwarna biru pucat masih bersinar dan bisa dijadikan model seorang suku Arya-nya Hitler yang kuat dan penuh energi.

Mantan ajudan Hitler itu mengantarkan kami memasuki sebuah ruangan di mana ia mengadakan riset. Saat kami duduk di antara kertas-kertas yang berserakan, dengan penuh perhatian ia menggelar selimut tua yang lusuh di atas lutut kami supaya tidak kedinginan. Gudang penyimpanan bom itu dingin. Meyer mulai berbicara dengan Heim, sementara saya, yang hanya sedikit-sedikit memahami bahasa Jerman, hanya mendengarkan. Mereka mulai berbicara selama beberapa menit sebelum akhirnya Heim mulai dengan bersemangat membicarakan Frederick Stahl, seorang pelukis yang dikagumi oleh Hitler dan anggota-anggota Nazi yang lain seperti yang disebutkan dalam buku ini. Mata Heim membelalak saat ia teringat pada Stahl, dan kupikir, juga pada masa lalunya. Ia menceritakan keindahan karya Stahl dan bagaimana Hitler memperlakukan pelukis ini seolah-olah ia adalah saudaranya, atau mungkin malah pengganti ayahnya.

Setelah beberapa saat, Nazi tua ini mengeluarkan beberapa bundel kertas dan sebuah amplop yang berisi foto-foto kecil. Foto-foto itu berukuran kecil dan berwarna hitam-putih. Foto-foto lukisan. Semua lukisan itu adalah karya Stahl dan seluruhnya terinventarisasi di kertas yang diserahkan Heim pada saya. Lukisan-lukisan itu, katanya, menghilang setelah terakhir kali terlihat di Zurich beberapa saat sebelum
runtuhnya kekuasaan Hitler. Ia tidak menyebutkan secara pasti kapan lukisan-lukisan itu terakhir kali terlihat dan siapa yang melihatnya. Ia memberikan salah satu dari foto itu pada saya dan daftar inventaris setelah saya berjanji untuk mencari lukisan itu dan memberitahunya melalui Werner jika ada kemajuan. Ini adalah lukisan yang ada di Daughter of God.

Dari Munich saya melanjutkan perjalanan ke Zurich untuk mencari tahu apakah masih ada jejak lukisan Stahl. Saya mencari informasi mengenai lukisan-lukisan itu dan berhasil mendapatkan beberapa nama galeri seni yang ada pada masa hilangnya lukisan-lukisan itu. Saya mengunjungi galeri seni tertua dan berbicara dengan pemiliknya. Foto dari Heim saya perlihatkan padanya. Padanya saya mengaku sebagai wakil seorang kolektor lukisan kaya yang tertarik untuk memiliki lukisan Stahl. Orang itu mengusir saya keluar dari galerinya dan mengancam akan menelpon polisi jika saya tidak segera meninggalkan daerah itu dengan segera. Ia mengatakan pada saya kalau ia tidak punya kaitan apa pun dengan lukisan-lukisan itu dan terlebih lagi, ia tidak mau berhubungan
dengan lukisan-lukisan itu dan juga dengan orang-orang yang tertarik dengan lukisan itu. Tidak mudah bagi saya untuk mengatakan apakah orang itu ketakutan atau marah. Mungkin keduanya. Tentu saja saya ketakutan.
Setelah itu saya mendapat banyak ancaman. Selama melakukan pelaporan investigatif, saya pernah menghadapi ancaman sebelumnya dan berhasil untuk mengatasinya untuk terus melangkah sampai berhasil mendapatkan cerita yang saya inginkan. Tapi itu masa lalu. Sekarang saya hanya bertekad untuk tetap bisa berada dalam keadaan sehat dan hidup.
Hilang di Zurich tidak termasuk rencana saya dalam menghabiskan liburan.

Saya kembali ke Munich dengan kereta terpagi pada keesokan harinya.
Saya melakukan kunjungan ke beberapa tempat kejadian kekejaman masa lalu-seperti Salzburg, Vienna, Amsterdam, dan akhirnya ke tambang garam tua di sisi Altaussersee, sebuah danau kecil yang dalam seperti di Pegunungan Alpen. Sepanjang rute ini, saya melakukan wawancara dengan beberapa ahli benda seni, ahli sejarah, pemilik museum, dan pemilik galeri. Sampai hari ini saya masih tidak memedulikan di mana keberadaan lukisan Stahl. Menurut saya, mengetahui keberadaannya tidak baik bagi kesehatan.

Pertemuan itu, sesi pertemuan dengan Nazi tua itu dan beberapa kejadian yang mengikutinya, mengubah buku saya dari sebelumnya buku mengenai pencurian karya seni menjadi buku tentang keyakinan dan agama, di mana karya seni yang dicuri memegang peranan kunci. Bagi saya, ini juga menjadi perjalanan pribadi menuju keimanan saya sendiri dan hubungan saya dengan Sang Pencipta. Kini perjalanan itu masih berlanjut, bagi saya. Tapi pada saat itu, itu hanyalah sebuah jejak untuk diikuti oleh seorang jurnalis investigatif.

Riset Macam Apa Lagi yang Anda Lakukan untuk Buku Ini?

Riset untuk Daughter of God membawa saya kembali pada dasar-dasar agama dan melihat bagaimana konsep Tuhan berubah dari wanita ke pria. Saya melakukan wawancara dengan lebih dari 40 orang ahli: para ulama dan ilmuwan Kristen, Islam, dan Judaisme. Dalam perjalanannya, saya membaca lebih dari 70 buku dengan topik-topik yang berhubungan, termasuk Alquran, Kitab Perjanjian Lama dan Baru di dalam Injil, Taurat terjemahan Jewish Publication Society, sejarah para nabi, beberapa bagian dari Injil Gnostik yang diterjemahkan, dan buku-buku lain.

Seberapa Jauh Kebenaran Buku Ini?

Daughter of God adalah kisah fiksi yang berdasar pada fakta yang mudah untuk dilacak kebenarannya. Sebagai contoh, kisah-kisah nyata tentang pencurian benda-benda seni dan bagaimana para tentara Amerika Serikat yang melarikan diri menggunakan benda seni hasil jarahan untuk membeli kebebasan mereka. Faktanya, banyak karya seni yang hilang selama masa perang tergantung di dinding kastil-kastil di Pegunungan Alpen. Dan masih banyak lagi dari benda-benda seni itu yang berada di bawah jalan-jalan di kota Zurich.

Saya melihatnya sendiri, karya-karya seni itu luar biasa bernilai. Jauh, jauh lebih bernilai daripada nyawa seseorang yang menanyakan pertanyaan yang salah. Nyawa saya terancam di Zurich karena terlalu banyak bertanya.

Apa Relevansi Buku Ini dengan Masa Kini dan Milenium Baru?

Tahun-tahun terakhir pada abad ke-20 dipenuhi dengan usaha-usaha yang tertunda sejak lama untuk mencari lokasi benda-benda seni yang dijarah dan mengembalikannya kepada pemilik yang sah. Bagian dari buku ini yang berkaitan dengan Konferensi Nicean, peristiwa-peristiwa, dan kontroversi religius yang mengawalinya adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi dan terdokumentasi. Buku yang berjudul Hitler's Pope, yang ditulis oleh John Cornwell, membuat semuanya menjadi lebih menarik lagi.

Para pelajar yang mempelajari sejarah, teologi, geografi, dan ilmu politik akan menemukan banyak sekali hal yang sungguh-sungguh nyata dalam buku ini.

Apakah Sophia Itu Sungguh-sungguh Ada?

Sophia berarti 'kebijaksanaan' dalam bahasa Yunani. Kalau Anda membaca Injil, Amsal pasal 8, Anda akan menemukan kata her. Sophia-lah yang dimaksud di sana.

Bagi masyarakat Yunani kuno dan Gereja Ortodoks Timur saat ini, Sophia sangatlah nyata. Ia adalah seorang wanita yang ada dalam sejarah atau sebuah konsep yang diwujudkan dalam sosok perempuan. Versi awal dari kitab suci mengindikasikan bahwa Roh Kudus dalam Trinitas Kristen adalah Sophia. Sophia adalah nama modern dari Great Goddess di masa lalu yang sudah ada jauh sebelum keberadaan sejarah tertulis, ketika orang-orang menganggap Tuhan sebagai seorang wanita.

Sampai hari ini Gereja Katolik dan kepercayaan yang lain-terutama Yunani dan Gereja Ortodoks Rusia-masih bersikap ambivalen mengenai Sophia yang masih dianggap sebagai mitos. Beberapa pihak, terutama yang mengikuti Gnostisisme, mengatakan bahwa ia adalah pencipta alam semesta ini.
Pihak lain memercayainya sebagai sisi feminin dari Tuhan. Sementara pihak lain mengidentifikasinya sebagai personifikasi dari Kebijaksanaan atau bahkan Roh Kudus dalam Trinitas Kristen sebelum dimaskulinkan secara keseluruhan. Sophia memiliki tempat di dalam sejarah, tapi di bagian mananya masih harus diputuskan.

Judul:
Daughter of God
Segitiga Misteri: Konstantin, Vatikan & Putri Tuhan
Misteri Menakutkan yang Mengguncang Fondasi Keimanan

"Anak Tuhan" ini dibunuh... karena jenis kelamin dan kekuatan
penyembuhannya...
-Publishers Weekly

Penulis:
Lewis Perdue
New York Times Bestselling Author

Fiction - Thriller

Pemusnahan benda-benda seni kuno bernilai tinggi. Penculikan serta pembunuhan demi pembunuhan. Misteri dan konspirasi yang telah berusia ribuan tahun terungkap. Fondasi keimanan masyarakat modern terancam!

Zoe Ridgeway, seorang broker seni terkemuka, pergi ke Swiss bersama suaminya, Seth, untuk menemui seorang kolektor benda seni. Sang kolektor yang menjelang ajal itu ingin agar Zoe mengurus benda-benda seninya. Namun, sebelum semua urusan selesai, sang kolektor meninggal dunia secara misterius dan rumahnya yang penuh dengan benda seni bernilai tinggi itu habis terbakar.

Tak hanya itu, Zoe diculik dan Seth harus menghadapi orang-orang yang mengancam jiwanya. Tampaknya ada sesuatu yang seharusnya mereka tidak ketahui. Sesuatu yang keberadaannya telah lama ditutup-tutupi dan dikubur dalam-dalam oleh pihak-pihak tertentu.

Zoe dan Seth terjerat jaring konspirasi yang telah berusia ribuan tahun, pembunuhan, dan intrik yang berporos pada misteri kebenaran Anak Perempuan Tuhan, yang bila terbukti akan menghancurkan fondasi peradaban manusia.

Fiksi berdasarkan fakta yang ditulis dengan meyakinkan...
-Kirkus Reviews

Thriller yang luar biasa.
-Indianapolis Star

Thriller yang luar biasa di setiap levelnya.
-Booklist

Sangat dianjurkan... Sebuah thriller yang sarat aksi...
-Midwest Book Review

Daughter of God adalah [contoh] bagaimana thriller seharusnya ditulis...
Bacaan yang tak akan cepat Anda lupakan.
-Clive Cussler, New York Times Bestselling Author

Daughter of God adalah thriller yang sarat aksi, memadukan pencurian benda seni, konspirasi yang telah berumur lebih dari satu milenium, dan filsuf religius.
-Harriet Klausner, The #1 Reviewer at Amazon

Mengagumkan... Ini adalah buku yang menarik, menegangkan, sekaligus menggugah.
-Sullivan County Democrat

Memikat sekaligus mencerahkan...
-National Catholic Reporter

Daughter of God bergerak laju dan hampir mustahil diletakkan [sebelum selesai]... Anda akan butuh tidur setelah duduk lama membacanya.
-Donna Scanlon, Rambles

Selain menjadi penulis, Lewis Perdue adalah presiden IdeaWorx, sebuah perusahaan pemasaran dan e-commerce. Ia pernah menjadi asisten utama senator dan gubernur, juga mengajar jurnalistik di Corness dan UCLA. Ia kini tinggal di Sonoma, California bersama istri dan dua anaknya.

Perdue menulis novel ini berdasarkan fakta. Pengalaman pribadinya ketika berusaha melacak keberadaan benda-benda seni yang hilang, ia suguhkan sebagai salah satu bukti. Ia memutuskan untuk berhenti melacak keberadaan benda-benda seni itu setelah mendapati gelagat yang kurang baik, kemarahan, dan beragam ancaman kekerasan yang datang dari berbagai pihak.

Situs resmi: www.daughter-of-god.com

Resensi / Sinopsis / Review Novel " The Hidden Face Of Iran "

Judul Buku : The Hidden Face Of Iran
Catatan Perjalanan Warga Amerika Serikat Menembus Jantung Negeri Iran
Penulis : Terence Ward
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Terbit: Cetakan 1, Maret 2007
Tebal: 579 halaman
Penerbit : Rajut Publishing

Ketika Iran dan AS Menjadi Saudara
Oleh Muhammad Ja’far


Seperti burung-burung attar, jalan kami untuk menemui keluarga Hassan membawa kami berhadapan dengan cinta, lebih jauh dari pada dunia politik dan sangkaan tidak berdasar (Ward, hlm 568).

Benar, bahwa Negara menjalankan fungsi representasi atas (aspirasi) rakyatnya melalui mekanisme politiknya. Namun, itu bukan berarti rakyat dapat selalu diidentikkan dengan Negara yang menjadi tempat afiliasinya. Terlebih lagi, rakyat diidentikkan dengan praktik politik yang berlaku didalamnya (pemerintahnya). Ini problem masyarakat dunia dewasa ini, yaitu keunikan individual, tergerus oleh komunalitas. Identifikasi serta generalisasi rakyat sebuah Negara dengan pemerintahan yang berkuasa didalamnya kerap terjadi.

Bahwa Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran kini sedang berseteru, benar adanya. Hubungan politik antar keduanya sedang memanas, tepat sekali. George W Bush, Presiden AS, dan Mahmoud Ahmadinajed, Presiden Iran, bisa dinobatkan sebagai dua pemimpin yang dalam dua tahun terakhir ini paling gencar berkonfrontasi diplomasi politik. Saling tuding dan aling dilakukan masing-masing. Terutama menyangkut isu program nuklir. Tampaknya tidak ada yang akan membantah bahwa antar keduanya sulit dibangun jembatan damai serta harmonisasi.

Tapi dalam buku ini, The Hidden Face of Iran,, fakta yang kita dapatkan justru sebaliknya: ‘Iran’ dan ‘Amerika’ bergandengan tangan layaknya saudara. Hubungan keduanya demikian erat, bersahabat dan penuh kekeluargaan. Sesuatu yang tidak kita dapatkan dalam cakrawala polotik praktis kedua Negara tersebut.

Buku ini membawa sebuah pesan tulus; mengidentikkan serta menggenaralisir individu (rakyat) dalam sebuah Negara dengan pemerintahan politiknya merupakan sebuah sikap yang sama sekali tidak tepat. Ward ingin berpesan bahwa fakta yang mengemukan pada tataran politis tidak dapat serta digeneralisir pada aspek sosio-kultural. Tidak selamanya realitas sosio-kultural parallel dengan kekelaman fakta politik. Konflik politik tidak dapat digeneralisir sebagai konflik peradaban. Keduanya tidak identik, walaupun dalam batas tertentu kesalingpengaruhannya tidak dapat dinafikan. Itu pasti. Namun, selalu saja banyak jalan untuk membuka pintu dialog sosia-kultural (peradaban) ketika pintu politik justru menutupnya dengan erat. Sebaliknya, bukan tidak mungkin, ketika relasi pada tingkat sosial-budaya buntu, aktor-aktor politik dua buah Negara justru bermesraan demi sebuah opportunisme-pragmatisme politik.

Buku ini merupakan rekaman perjalanan Terence Ward mengarungi tebing curam realitas Iran. Ward ialah seorang berkebangsaan Amerika Serikat. Bersama keluarga besarnya, ia menghabiskan masa kecilnya di Iran. Selama itu, keluarga Ward ditemani seorang pembantu bernama Hassan, penduduk setempat. Pengabdian Hassan yang tulus tanpa pamrih menempatkannya lebih dari sekedar koki penyiap masakan. Terjalin hubungan demikian erat dan istimewa antara keluarga Hassan dan keluarga Ward dalam satu atap. Hingga akhirnya takdir memisahkan keduanya pada 1960-an. Keluarga Ward kembali ke negaranya, Amerika Serikat. Sedangkan Hassan tetap bersemayam di bumi pertiwinya, Iran.

Tiga puluh tahunan berselang, tepatnya 1998, terketuk hati keluarga Ward untuk bertemu kembali dengan Hassan. Namun, kondisi Iran yang tidak lagi seperti dulu membuat proses pencarian tidak mudah dilakukan. Ada dua momentum penting yang terjadi dalam rentang waktu tersebut: meletusnya revolusi Islam dan perang sepuluh tahun denga Irak. Dua momen itu menjadi begitu penting, karena selain mengubah Iran sendiri, momen itu membalikkan secara drastis hubungan politik pemerintah Negara itu dengan Amerika Serikat: bukan lagi sebagai kawan karib sebagaimana masa pemerintahan Syah Reza Pahlevi, namun berbalik menjadi musuh bebuyutan. Iran dan Awerika Serikat tidak pernah akur. Ini tantangan terberat keluarga Ward untuk memasuki Iran; melawan stigma politis tentang rakyat Iran tentang bangsa Amerika Serikat.

Perjalanan kembali ke Iran, dalam rangka menemukan kembali Hassan inilah yang menjadi bidikan utama Ward dalam dalam karyanya ini. Perjalanannya bersama orang tua dan saudara-saudaranya, dinarasikan Ward secara sederhana, namun penuh makna. Ward mencoba memotret realitas sosio-kultur-politik Iran, tiga puluh tahun setelah ditinggalkannya. Banyak elemen hidup masyarakatnya yang telah berubah drastis, dan kini asing di mata Ward .

Namun sedemikian berubahnya, Ward tetap dapat menangkap energi kuat negeri itu yang tidak pernah hilang dari dasar memorinya. Ketika itu, bagi Ward , kampung halamannya adalah Iran, bukan Amerika Serikat. “kampung halaman, tempat segala penemuan dan pengalaman masa kecil terjadi, berubah-ubah seiring waktu, sehingga bisa dikatakan bahwa kita semua ialah pengungsi dari sebuah dunia yang hilang”. Demikian Ward menarasikan persepsinya tentang masa kecilnya di Iran, dengan mengutip Rebecca Solnit dalam A Book of Migrations.

Secara kategoris, ada dua aspek yang menjadi fokus utama Ward di bukunya ini; pertama, penelusuran serta penggambaran tentang pergumulan Iran dalam mencari identitas kebangsaan-kenegaraannya. Karena diwarisi reruntuhan peradaban Persia yang cukup gemilang, Iran memiliki bekal berharga untuk menjadi besar, namun pada saat yang sama berpotensi terbebani oleh masa lalunya. Salah satu penggambaran apik Ward tentang masalah ini adalah tarik menarik yang kuat antara penggunaan nama Persia dan sebutan Iran saja. Secara simbolik, ini merepresentasikan ketegangan masyarakat Iran dalam menyikapi masa lalu mereka dan merengkuh masa depan mereka.

Kedua, ketegangan lain yang dialami Iran dan disoroti Ward adalah antara mempertahankan nilai-nilai ideal revolusi Islam dan keniscayaan untuk membuka diri dengan realitas yang berkembang pada tingkat global. Untuk mengakomodir keduanya, bukan agenda yang mudah bagi bangsa Iran. Menjaga nilai suci revolusi, memiliki tantangan berat untuk tidak terjebak pada stagnasi dan sikap tertutup. Adapun tuntutan untuk senantiasa berparadigma terbuka dan dinamis kerap dicurigai akan menjerumuskan penduduk negeri itu pada virus westernisasi. Maka, ketegangan menjadi tidak terhindarkan. Ini salah satu tantangan terbesar bangsa Iran.

Dari aspek tema, buku ini cukup relevan dan aktual, mengingat fenomena global dewasa ini semakin menunjukkan signifikansi berlangsungnya proses dialog peradaban di tengah carut marut tata politik ekonomi global. Dari perjalanan jauhnya mengarungi bumi Iran, Ward membawa ‘oleh-oleh’ tentang pentingnya dialog peradaban. Bahwa kita harus tetap optomis ada jalan menuju dialog, bukan melalui jalur politik, melainkan sosio-kultural. Dan itulah ratusan jalan menuju dialog dan peradaban, pesan Ward demikian kuat.

Namun, sesederhana inikah persoalan tentang dialog peradaban ini? Tentu tidak. Buku Ward bukanlah buku ilmiah atau akademis. Ini ‘sekedar’ buku journey, dengan pesan tulus, polos, dan bijaksana di dalamnya. Sementara itu, domain persoalan yang hendak direngkuhnya, yaitu soal dialog peradaban, jauh menelisik ke diskursus filosofis, sosiologis dan politis.

Telah banyak buku ilmiah-akademis lahir untuk mengupas tuntas soal dialog peradaban, dengan berbagai pendekatan keilmuan serta beragam teori. Tentu, sebuah dokumentasi perjalanan yang tidak bercorak ilmiah, sebagaimana yang ditulis Ward ini, tidak berpretensi menuntaskan persoalan yang kompleks ini. Tapi, apa artinya keilmiahan serta keakademisan sebuah pesan jika tidak mengandung ketulusan dan kebijaksanaan?
Ward hanya hendak menyampaikan pesan perdamaian dan dialog sebagai oleh-oleh dari perjalanan jauhnya. Bukan buku ilmiah dengan seabrek teori dan pikiran yang njelimet. Toh, bukankah perdamaian itu persoalan cukup sederhana jika bukan (nalar politik) kita sendiri yang memperumitnya?***

Resensi / Sinopsis / Review Novel " ENRIQUE’S JOURNEY "

ENRIQUE’S JOURNEY
Petualangan Seorang Anak Di Atas Kereta Api Maut Demi
Bersatu Kembali Dengan Ibunya

Penulis: Sonia Nazario
Format: 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman: viii + 396 hlmn
ISBN: 978-979-1227-05-6

Dia bercerita tentang gangster yang menguasai atap kereta api, bandit di sepanjang rel kereta, polisi Meksiko yang berpatroli di stasiun-stasiun kereta api yang memperkosa serta merampok, dan bahaya kehilangan kaki saat naik atau turun dari kereta yang sedang bergerak. Selama perjalanannya di atap api kereta melalui Meksiko, katanya pada saya, dia menyaksikan lima peristiwa di mana migran dibuntungkan oleh kereta api. Dia melihat seorang laki-laki kehilangan separuh kaki saat berusaha naik ke atas kereta. Dia melihat enam gangster menarik pisau mereka dan melempar seorang gadis dari kereta hingga tewas. Suatu kali, dia jatuh dari kereta dan mendarat tepat di samping roda-roda baja yang sedang berputar. “Aku mengira aku sudah mati. Tubuhku sangat dingin,” katanya.
Sonia Nazario, peraih penghargaan Pulitzer tahun 2003 untuk kisah Enrique’s Journey ini, dengan berani melakukan perjalanan itu. Untuk menulis dengan akurat dan penuh nuansa, ia berpendapat bahwa dirinya harus benar-benar mengalami apa yang dirasakan anak-anak Latin saat melakukan perjalanan ilegal menuju Amerika Serikat. Selama berbulan-bulan, saat melakukan perjalanan mengikuti jejak kaki Enrique, seorang anak Honduras yang dipilihnya sebagai contoh kasus, ia hampir terus-menerus hidup dalam bahaya dipukuli, dirampok, atau diperkosa.
Setiap tahun, 48.000 anak seperti Enrique pergi ke Amerika Serikat dengan melakukan perjalanan di atas atap kereta api barang. Mereka menyebutnya Al Train de la Muerte atau Kereta Api Maut. Di perbatasan, untuk menghindari petugas imigrasi, mereka berlarian dan melompat dari gerbong ke gerbong yang sedang melaju. Beberapa pergi berhari-hari tanpa makan. Jika kereta berhenti, mereka merunduk di dekat rel, menangkupkan kedua tangan, dan mengambil beberapa sesap air dari genangan yang telah tercemar minyak disel. Mereka tidur di atas pohon, di rumput-rumput yang tinggi, atau beralaskan daun. Dan, 75% dari anak-anak ini, laki-laki dan perempuan, berani menantang perjalanan maut “hanya” untuk mencari ibu mereka. Beberapa masih bayi saat ibu mereka pergi; mereka mengenal ibu mereka hanya dari foto-foto yang dikirimkan ke rumah. Ya, kerinduan akan ibu-lah yang sanggup membangkitkan hasrat sebesar itu. Tidak mengherankan bila di tangan penulis sebesar Sonia, Enrique’s Journey
dianggap sebagai salah satu kisah petualangan terbesar abad dua puluh satu.

Resensi / Sinopsis / Review Novel " Kill! "

Judul : Kill!
Diterjemahkan dari : The Straw Men (2002)
Penulis: Michael Marshall
Penerjemah: Ella Elviana
Tebal: 524 hlm; 14 X 21 cm
Terbit: Cetakan 1, Juli 2007
Penerbit: Dastan Books
TEORI KONSPIRASI MANUSIA TEGAK

Michael Marshall -lengkapnya Michael Marshall Smith, adalah penulis asal Inggris yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerita pendek, novella, maupun skenario film. Novel perdana lelaki kelahiran Inggris tahun 1965 ini, Only Forward (1994, yang ditulis menggunakan nama Michael Marshall Smith, telah memenangkan August Derleth Award dan Philip K. Dick Award. Marshall tercatat sebagai penulis yang beberapa kali memenangkan BASF Award (kategori fiksi pendek) dan British Fantasy Award. The Straw Men adalah novel keempat Marshall setelah Only Forward, Spares (1996), dan One of Us (1998).
Edisi Indonesia The Straw Men yang merupakan hasil terjemahan Ella Elviana diterbitkan Penerbit Dastan dengan judul baru, KILL!. Pada sampul depan yang provokatif, ada embel-embel kalimat: EVOLUSI HARUS BERLANJUT. Mereka yang membunuh Akan Terselamatkan. Mereka Yang Tidak, Menjadi Korban...
Kill! dibuka dengan sebuah kejadian berdarah yang terjadi pada 30 Oktober 1991 di sebuah restoran McDonald di Palmerston, Pennsylvania. Di tengah-tengah acara makan siang, dua orang pria menghamburkan peluru dari senapan semiotomatis dan menewaskan 68 orang. Salah satu pembunuh, yang masih remaja, tewas dibunuh oleh pasangannya yang lebih tua, yang segera menghilang pasca kejadian.
Sepuluh tahun kemudian –masa kini dalam novel- seorang mantan agen CIA bernama Ward Hopkins, kembali ke Dyesburg, Montana. Ia datang untuk menghadiri kematian kedua orang tuanya karena kecelakaan mobil. Sehari setelah pemakaman, secara kebetulan, Ward menemukan sebuah novel terselip dalam sofa milik ayahnya, dengan secarik kertas bertuliskan: "Kami tidak mati."
Sementara itu, John Zandt yang telah meninggalkan pekerjaannya sebagai detektif LAPD dan menghabiskan waktunya di Pimonta, Vermont selatan, dikunjungi oleh Nina Baynam, seorang agen FBI. Dua tahun sebelumnya mereka terlibat pengusutan kasus menghilangnya beberapa gadis remaja. Mereka sempat terlibat perselingkuhan sampai akhirnya Karen Zandt, putri John, menjadi korban kelima. John menemukan tersangka penculiknya. Nina datang untuk mengajak Zandt melanjutkan investigasi mereka. Di Santa Monica, seorang gadis remaja bernama Sarah Becker diculik dan hilang bagaikan ditelan bumi. Diduga, penculik yang sama yang dulunya digelari Anak Tukang Kirim (The Delivery Boy) beraksi kembali. Padahal John telah membunuh tersangka penculik gadis remaja yang memproklamasikan namanya sebagai si Manusia Tegak (The Upright Man).

Setelah melakukan penculikan, si Manusia Tegak memiliki kebiasaan mengirimkan sweter dengan sulaman nama korban menggunakan rambut korban sendiri kepada keluarganya. Tapi, Nina menemukan rambut yang digunakan pada sweter Sarah adalah rambut Karen.
Pesan singkat Donald Hopkins membuat Ward terusik dan ingin tahu secara persis peristiwa tabrakan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Sebuah video yang ditemukan dalam VCR milik ayahnya kian mendorong Ward untuk menelisik misteri kematian orang tuanya. Pengusutan Ward yang dibantu temannya, Bobby Nygard, mengantarkannya ke sebuah perumahan eksklusif yang pernah menarik perhatian Donald Hopkins.
Secara tak terduga, dalam kabut kebingungan, Zandt menemukan kunci misteri penculikan dan pembunuhan gadis-gadis itu. Ternyata, si Manusia Tegak tidak bekerja sendirian. Seiring dengan itu, investigasi Ward dan Bobby, menuntun mereka ke dalam dunia sebuah kelompok yang menamakan diri The Straw Men. Selanjutnya, investigasi mereka akan membuhul peristiwa kematian orang tua Ward, penculikan Sarah Becker, dan penyelidikan Nina dan Zandt. Dengan si Manusia Tegak sebagai pengikat.
Masalahnya sekarang, siapa si Manusia Tegak ini? Pengungkapan wajah si Manusia Tegak tidak hanya akan menguliti keberadaan The Straw Men yang ternyata telah lama eksis, tapi juga akan mengelupas rahasia kehidupan Ward yang tidak pernah ia ketahui.

Pada klimaks yang mencekam, ketika semua plot tersimpul menjadi satu dan padu, akan terburai sepenuhnya rencana gila sekelompok manusia yang didasari oleh sebuah teori konspirasi gila.
Hadir dalam 3 bagian besar dengan 37 bab (termasuk prolog dan epilog), sejak awal Michael Marshall telah membuat pembaca bertanya-tanya ke mana plot akan digulirkan. Setelah prolog misterius yang dipaparkan secara terkendali, Marshall membawa pembaca masuk dalam beberapa plot cerita: kehidupan Ward Hopkins dan perjalanan menguak misteri kematian orang tuanya, kehidupan John Zandt dan perjuangannya memecahkan misteri hilangnya gadis-gadis dengan Nina Baynam, juga cerita penculikan Sarah Becker dan interaksinya dengan si Manusia Tegak. Pelan-pelan, di sela-sela kejutan yang dibeberkan, akan tersingkap sesungguhnya semua plot itu saling kelindan. Hanya untuk mencapai simpulnya, pembaca harus sedikit sabar. Karena Marshall bukan pencerita yang terburu-buru.
Cerita digulirkan menggunakan 2 perspektif. Perspektif orang ketiga dan orang pertama. Untuk orang pertama, Marshall menggunakan Ward sebagai narator. Entah pertimbangan apa yang digunakan. Selama membaca novel ini, saya tidak melihat perbedaan signifikan yang muncul lantaran penggunaan teknik ini. Mungkin, Marshall ingin tampil agak beda, dan ini sah-sah saja. Apalagi, cerita tetap bisa dinikmati.
Oleh Marshall, plot kelam rancangannya digelorakan oleh karakter-karakter kuat yang memiliki kehidupan yang problematis. Hasilnya, cerita menjadi lebih menarik karena tidak hanya sepenuhnya membedah kasus yang ada. Tapi juga kehidupan para karakter lebih dalam. Dan yang jelas, dengan tidak menciptakan lanturan.
Kendati wajah si Manusia Tegak telah ditelanjangkan, dilihat dari pakem sebuah novel pada umumnya, kisah dalam novel ini sejatinya memang belum tuntas. Kecuali, Marshall sengaja memberikan penyelesaian cerita seperti itu. Tapi rupanya kisah si Manusia Tegak ini telah dikembangkan Marshall dalam 2 novel berikutnya, The Lonely Dead (judul Amerika, The Upright Man, 2004) dan Blood of Angels (2005) sehingga keseluruhannya menjadi novel trilogi. Dengan demikian, kita berharap, cerita benar-benar akan dituntaskan secara memuaskan.
Embel-embel di bawah judul edisi Indonesia pada sampul depan memang benar-benar menyiratkan isi novel yang saat ini telah dikembangkan menjadi komik berseri. Jadi, tidak mengada-ada atau bombastis. Hanya, untuk memahami maksudnya, mesti membaca novelnya dulu. Embel-embel itu merupakan bagian sebuah teori gila yang tertuang dalam sebuah tulisan bertajuk Manifesto Manusia (Straw Man Manifesto), yang menjadi landasan ideal karakter antagonis utama novel.
Penasaran? Bagaimana kalau Anda baca sendiri?

Resensi / Sinopsis / Review Novel " HUBBU "

HUBBU
Mashuri
Novel sastra karya asli; GM 20107013; ISBN 979-22-3125-0; 246hlm; 13.5x20cm
PEMENANG I SAYEMBARA NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2006
Jika selama ini cerita berlatar pesantren termarginalkan dalam ranah sastra Indonesia, maka kemunculan HUBBU karya Mashuri telah mengakhiri masa keterasingan itu.
Adalah Jarot, tokoh utama novel ini, yang menjadi pusat penceritaan. Dikisahkan Jarot alias Abdullah Sattar dididik keras oleh keluarganya yang berlatar belakang santri untuk menjadi penerus trah keluarga. Sejak kecil Jarot memiliki keistimewaan seperti mampu menghapal dengan cepat ayat-ayat suci Al Quran dan bersikap kritis kepada lingkungannya. Hal ini semakin meyakinkan keluarga bahwa Jarot anak yang spesial sehingga tepat menjadi penerus pesantren kebanggaan Desa Alas Abang.
Menjelang dewasa, konflik psikologis mulai menerpa Jarot. Pertemuan budaya Jawa dan Islam menambah kompleksitas jati dirinya. Apalagi ketika cinta hadir dan Jarot mesti kucing-kucingan dengan tempatnya nyantri untuk bertemu gadis pujaan hati. Cinta ini mesti berakhir dengan kepergian Jarot meneruskan kuliah di Universitas Airlangga. Dunia luar semakin terbuka untuknya. Pertikaian idealisme di diri Jarot pun muncul ketika kenyataan tidak seperti yang ia duga. Terlebih saat ia bersinggungan dengan pergaulan bebas antar mahasiswa. Sementara itu datang berita dari Alas Abang, bahwa ia mesti menunaikan tugas menjadi pemimpin pesantren. Jarot pun sampai pada persimpangan kritis; memilih memikul tangggung jawab yang dibebankan keluarga di pundaknya atau mengikuti suara hati dalam menjalani hidupnya.

Novel HUBBU ditulis dengan gaya penceritaan yang unik. HUBBU sendiri dari bahasa Arab, artinya cinta. Alur cerita HUBBU melompat-lompat dinamis, menjalin cerita utuh berkelindan. Membaca HUBBU seperti berdiri di berbagai tempat untuk melihat ke satu persoalan sehingga beragam prespektif dari tokoh-tokohnya dapat kita rasakan. Hanya penulis piawai yang mampu melakukan teknik bercerita semacam ini. Dan Mashuri telah membuktikannya dengan HUBBU, sebuah novel yang memang pantas untuk menang.

''Dewan juri memilih Hubbu karena sangat utuh dan padu ceritanya.''

Ahmad Tohari
sastrawan,
juri Sayembara Penulisan
Novel DKJ 2006

Resensi / Sinopsis / Review Novel " KERETA 4.50 DARI PADDINGTON "

KERETA 4.50 DARI PADDINGTON
4.50 from Paddington
Novel dewasa terjemahan; GM 40207062; ISBN 979-22-3130-7; 344 hlm; 11x18cm
Tak ada yang percaya ketika Mrs. McGillicuddy melapor baru saja melihat seorang wanita dicekik di dalam gerbong kelas satu, di kereta api yang berjalan sejajar dengan kereta api yang ditumpanginya.
Tak ada, kecuali sahabatnya, Jane Marple.
Tak adanya mayat yang ditemukan tidak menghalangi Miss Marple memanfaatkan bakat khususnya untuk menyelidiki kejahatan yang luar biasa ini.
Tapi bahkan dia pun tak sanggup mencegah pembunuhan berikutnya.

Resensi / Sinopsis / Review Novel " SKANDAL PERJAMUAN NATAL "

SKANDAL PERJAMUAN NATAL
The Adventure of the Christmas Pudding
Agatha Christie
Novel dewasa terjemahan; GM 40207043; ISBN 979-22-2970-1; 352 hlm; 11x18cm
* cetak ulang ganti cover*
Jangan makan puding itu…
Puding Natal khusus itu terhidang dengan segala kemegahannya di piring hidangan dari perak. Pudding itu berbentuk bola kaki yang besar. Setangkai daun holly tertancap di atasnya, seperti bendera kemenangan, dan nyala api biru dan merah cemerlang semarak di sekelilingnya. Terdengar pekik sorak kagum dari semua yang hadir.
Hercule Poirot memandang kue di piringnya dengan ekspresi agak aneh.
Itu karena dia telah menemukan secarik surat pendek di tempat tidurnya, yang berbunyi:

JANGAN MAKAN SEDIKIT PUN PUDING PLUM YANG DIHIDANGKAN.
DARI SESEORANG YANG BERNIAT BAIK TERHADAP ANDA.

Resensi / Sinopsis / Review Novel " MATINYA LORD EDGWARE "

MATINYA LORD EDGWARE
Lord Edgware Dies
Agatha Christie
Novel dewasa terjemahan; GM 40207033; ISBN 979-22-2885-3; 336hlm; 11x18cm
*cetak ulang ganti cover*
“Suami saya harus saya singkirkan!”
Poirot terenyak kaget. Tapi ketika bertemu Lord Edgware, aku teringat kembali bagaimana Jane bergidik ketika menceritakan suaminya. Dengan ramah Lord Edgware mengucapkan selamat berpisah kepada kami, tapi ketika sedang menutup pintu perpustakaan, aku melihat ke dalam dan hampir saja aku berseru kaget.
Wajah penuh senyum yang ningrat tadi telah beralih rupa. Bibirnya menyeringai sehingga tampak deretan giginya, matanya berkilat-kilat marah---sorot kemarahan yang hampir-hampir mendekati sinting.
Esok paginya Lord Edgware ditemukan sudah mati. Tengkuknya ditikam….

Resensi / Sinopsis Novel "ANAK-ANAK ANANSI"

ANAK-ANAK ANANSI
Neil Gaiman
Novel dewasa terjemahan; GM 40207049; ISBN 979-22-3024-1; 432hlm; 13.5x20cm

Dewa sudah mati. Kenalkan, anak-anaknya.

Jika ayah Fat Charlie menamai sesuatu, nama itu pasti melekat. Misalnya julukan “Fat Charlie”. Sekarang pun, dua puluh tahun kemudian, Charles Nancy masih tak bisa melepaskan diri dari nama itu, salah satu dari banyak “hadiah” memalukan yang diberikan ayahnya—sebelum ayahnya roboh dan mati di panggung karaoke dan menghancurkan kehidupan Fat Charlie.
Mr. Nancy mewariskan beberapa hal untuk Fat Charlie. Misalnya, pria asing jangkung dan tampan yang muncul di ambang pintu Charlie. Rupanya dia saudara yang belum pernah diketahui Charlie. Saudara yang bertolak belakang dengan Charlie bagai langit dan bumi, saudara yang akan menunjukkan cara bersantai dan bersenang-senang sedikit… persis Ayah Tercinta. Dan tiba-tiba, hidup mulai menjadi sangat menarik bagi Fat Charlie.
Soalnya, ayah Charlie tidak seperti ayah kebanyakan. Dia Anansi, dewa jail, dewa laba-laba. Anansi adalah semangat pemberontakan, mampu menjungkirbalikkan tatanan sosial, menciptakan kekayaan dari ketiadaan, dan membingungkan sang Iblis. Konon dia bahkan mampu mengecoh Maut.

Anansi Boys adalah karya dengan kecerdikan memukau, perjalanan kaleidoskopis jauh ke dalam mitos mencengangkan, mengerikan, menggairahkan, dan sangat lucu—novel yang benar-benar menakjubkan, sampai-sampai Stephen King menjuluki penulisnya “peti harta karun kisah-kisah, dan kita beruntung memiliki dia.”

The Golem's Eye (Mata Golem)

Judul Buku: The Golem's Eye (Mata Golem)
Penulis: Jonathan Stroud
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Editor: Dini Pandia
Tebal: 624 hlm; 20 cm
Terbit: Juli 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


MISTERI DI BALIK MATA GOLEM


Setelah The Amulet of Samarkand (Mei, 2007), Gramedia Pustaka Utama menerbitkan bagian kedua dari Trilogi Bartimaeus karya Jonathan Stroud, The Golem's Eye (Juli 2007). Bagian ketiga, Ptolemy's Gate, akan terbit September 2007. Mengingat trilogi ini mengisahkan tentang hubungan penyihir dan jin, Nathaniel (Nat) dan Bartimaeus (Bart), maka sekali lagi, Bart, jin sombong dan berlidah tajam akan dipanggil dari Dunia Lain (dunia asal demon). Membaca ocehan-ocehan pedas Bartimaeus di buku pertama, jelaslah pemanggilan dirinya merupakan hal yang sangat tidak ia harapkan. Jika ia dipanggil, mau tak mau ia kembali lagi menjadi budak yang mesti menjalankan semua perintah sang master –penyihir yang memanggilnya.

The Golem's Eye (Mata Golem) menggunakan latar waktu hampir tiga tahun setelah pertemuan pertama Bart dan Nat. Saat cerita digulirkan sang penulis, Nat, telah berusia 14 tahun, berada di bawah pengawasan Jessica Whitwell (masternya) dan bekerja sebagai asisten Kepala Urusan Dalam Negeri, Julius Tallow. Tugas Nat antara lain mengatasi semua aksi yang dilancarkan kelompok commoner yang dikenal sebagai Resistance. Resistance beranggotakan orang-orang dengan kemampuan istimewa yang mencoba melawan pemerintahan sihir. Trilogi Bartimaeus ini memang berlatar Inggris ketika manusia biasa (commoner) telah kehilangan kekuasaan dan pemerintahan berada di tangan para penyihir. Para penyihir berkuasa dan memiliki kecenderungan hidup mewah, haus kekuasaan dan kehormatan, serta memperlakukan commoner secara opresif. Rahasia kekuasaan para penyihir terletak pada kemampuan mereka berkomunikasi dengan para demon, memanggil dari Dunia Lain, dan memaksa melaksanakan apa yang mereka
inginkan. Kekuasaan para penyihir yang kerap bertindak congkak membuat sebagian commoner menjadi oposan. Mereka melakukan penyerangan terhadap pihak penyihir dengan memanfaatkan artefak-artefak magis milik penyihir yang mereka curi. Bahkan mereka pernah mencoba membunuh Perdana Menteri Sihir, Rupert Devereaux.

Menjelang berlangsungnya Founder's Day (hari lahir Gladstone, penyihir yang menggulingkan kekuasaan commoner), terjadi perusakan yang hebat di Piccadilly. Karena sebelumnya telah terjadi aksi Resistance, maka, tak ayal lagi, mereka menjadi tertuduh utama. Tapi Nat tidak sepakat. Kondisi kerusakan yang ada menurut Nat tidak menunjukkan hasil perbuatan Resistance. Menjadi tugasnya sebagai pekerja bagian Urusan Dalam Negeri untuk mencari wajah sebenarnya si perusak. Nat menduga perusakan oleh oknum yang sama akan terulang, untuk itu, sekali lagi, dalam rangka membantu tugasnya, ia memanggil Bartimaeus.

Seperti yang telah diduga, tindakan Nat menimbulkan kemarahan Bart yang spontan menyemburkan emosi tanpa tertahankan. Setelah saling adu argumen, kesepakatan diperoleh: Bart akan melayani Nat selama 6 minggu.

Dugaan Nat memang terbukti. Perusakan kembali terjadi di British Museum. Bart yang melakukan penelitian dan nyaris tewas menemukan jika penyebab kerusakan itu adalah golem. Golem, raksasa yang terbuat dari tanah liat, sekeras batu granit, tidak mempan serangan, dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia terselubung kegelapan dan menebarkan bau tanah di sekitarnya. Bagi demon, sentuhan golem akan menimbulkan kematian dengan menghancurkan roh menjadi debu. Untuk membuat golem, penyihir memerlukan secarik perkamen bertuliskan mantra yang dapat menghidupkan golem. Setelah golem dibentuk dari tanah liat, perkamen itu dimasukkan ke dalam mulut golem. Sebongkah tanah liat khusus yang dibentuk dengan mantra lain diletakkan di dahi golem dan berfungsi sebagai mata. Mata golem akan menjadi pengintai bagi penyihir pemilik golem. Berdasarkan hasil pengintaian, si penyihir akan mengendalikan golem menggunakan bola kristal. Satu-satunya cara mengakhiri hidup golem adalah dengan
mengeluarkan perkamen dari mulutnya. Setelah perkamen dikeluarkan, pemiliknya akan diketahui karena tubuh golem akan kembali kepada masternya dan menjadi tanah liat.

Pengungkapan golem sebagai dalang perusakan mendapatkan tantangan keras dari penyihir lain, terutama Kepala Polisi Henry Duvall. Menurut catatan sejarah, berbarengan dengan runtuhnya Kekaisaran Ceko, penggunaan golem telah berakhi. Selain itu pembuatan golem tergolong rumit dan nyaris mustahil. Tapi ketika mata golem koleksi Simon Lovelace (The Amulet of Samarkand) hilang dari tempat penyimpanan artefak Departemen Pertahanan, investigasi terpaksa harus dilakukan, yang pada gilirannya membawa Nat dan Bart ke Praha.

Simultan dengan kepergian Nat ke Praha, kelompok Resistance di bawah kepemimpinan Mr. Pennyfeather merampok makam Gladstone, sang Pendiri Negara di Westminster Abbey. Usaha perampokan gagal dan nyaris menewaskan semua anggota Resistance. Salah satu yang selamat adalah seorang gadis bernama Kitty. Ia meninggalkan Westmisnter Abbey dengan membawa tongkat Gladstone. Ia tidak tahu artefak yang dibawanya adalah benda yang sangat berharga bagi pemerintahan sihir.

Aksi perampokan di Westminster Abbey menambah beban pekerjaan Nathaniel sekaligus mengancam kariernya. Harus ada yang dilakukan untuk mengambil tongkat Gladstone. Tapi hal ini tetap tidak mudah bagi Nat karena keberadaannya tidak luput dari usikan pihak yang mencemburuinya. Ketika akhirnya Nat bisa bertemu dengan Kitty, nyawanya justru terpental di ujung tanduk. Celakanya, kali ini Bart tidak bisa menolong karena menolong Nat berarti mengorbankan nyawanya.

Lalu, apa yang akan terjadi pada Nat? Mengingat masih ada bagian ketiga, Ptolemy's Gate (Gerbang Ptolemy) jelas sudah jika hidup Nat tidak akan berakhir sampai di sini. Demikian juga hidup Bart. Sangat menarik ketika Nat, yang notabene adalah penyihir, pada situasi genting, tidak bisa mengandalkan kemampuan sihirnya dan bergantung pada hati nurani seorang commoner. Bart tahu benar siapa dia, dan tahu benar juga, commoner ini tidak akan tega membiarkan Nat meregang nyawa percuma. Dalam situasi ini sekaligus akan terungkap misteri di balik golem, dan siapa yang telah menggunakan mata golem untuk memantau serta mengendalikan aksi perusakan yang dituduhkan pada Resistance. Apa yang pernah dikatakan Simon Lovelace dalam The Amulet of Samarkand (hlm. 329), bahwa di dunia sihir, "Tak ada kehormatan, tak ada kemuliaan, tak ada keadilan. Setiap penyihir bertindak hanya untuk kepentingan diri sendiri, merenggut setiap kesempatan yang dapat diraihnya. Saat dia lemah, dia
menghindari bahaya. Tapi saat dia kuat, dia akan menyerang", tetap akan berlaku. Seperti bagian pertama, The Amulet of Samarkand, konflik utama tetap bersumber dari kalangan penyihir sendiri. Siapa pencetus konflik dalam The Golem's Eye, akan Anda temukan setelah membaca buku setebal 624 halaman ini. Yang jelas, ia (ternyata) memiliki hubungan dengan karakter antagonis dalam The Amulet of Samarkand, Simon Lovelace.

The Golem's Eye terdiri atas 4 bagian besar yang dijabarkan dalam 48 bab. Kisah dibuka dengan sebuah prolog yang menceritakan serangan Gladstone atas Praha pada tahun 1868, saat Bartimaeus bermasterkan seorang penyihir Ceko. Tentu saja prolog ini memiliki pertalian dengan konflik yang akan dijabarkan pada bagian novel selanjutnya. Seandainya The Golem's Eye ini sebuah film (dan memang akan difilmkan), prolognya menjadi semacam teaser yang mengasyikkan.

Jika dalam buku pertama penulis mengalirkan plot melalui dua perspektif, yakni orang pertama dengan Bart sebagai narator dan orang ketiga untuk mengisahkan sepak terjang Nat, kali ini Jonathan Stroud menambah porsi penceritaan untuk mengalirkan kisah hidup dan petualangan Kitty yang tak kalah menarik.

Seperti buku pertama, ketika membaca cerita yang dielaborasi Bart, kita tetap akan menemukan eskpresi yang sinis, sok tahu, dan egomaniak yang tidak cukup hanya menggunakan narasi biasa, tapi juga catatan kaki yang menggelikan. Tak dapat dibantah, hal inilah sesungguhnya yang menjadi salah satu kekuatan dan daya tarik Trilogi Bartimaeus. Tapi dengan kehadiran Kitty, Bart mendapatkan lawan yang cukup setara untuk mengatasi lidah tajamnya. Kitty memang tidak ceriwis seperti Bart, tapi tidak juga kehilangan kata untuk meremehkan Bart. Karakter Kitty sudah muncul di The Amulet of Samarkand tapi dengan porsi yang tidak banyak. Keberadaannya di alam imajinasi Jonathan Stroud telah menjadi salah satu pendorong dirangkainya kisah Nat dan Bart dalam bentuk trilogi.

Masih menggunakan latar dunia sihir yang berbeda dengan kisah-kisah dunia sihir lainnya (dunia sihir tempat penyihir berkuasa, ritual pemanggilan demon dengan menggambar pentacle dan tujuh tingkat keberadaan (plane)), karakter-karakter yang menarik, plot terjaga yang kian meruncing mencapai bagian akhir, sekali lagi Jonathan Stroud membuktikan dirinya sebagai penulis kisah fantasi yang tangguh. Ia memiliki kemampuan meramu kisah dengan sangat mengasyikkan, yang akan terus menghasut pembaca untuk menuntaskan seluruh buku begitu membaca dan menemukan daya tariknya. Menurut Jonathan Stroud ide kisah Bartimaeus muncul pertama kali Oktober 2001 dan membutuhkan dua tahun penggarapan dalam bentuk novel yang siap diterbitkan. Ketiga buku dari Trilogi Bartimaeus ini diterbitkan pertama kali berturut-turut tahun 2003, 2004, daan 2005. Pada tahun 2006, Trilogi Bartimaeus memenangkan Mythopoeic Award untuk kategori literatur anak dan Grand Prix de l'imaginaire, untuk kategori
fantasi dan fiksi sains (Prancis).

Edisi Indonesia diterjemahkan dengan asyik sehingga kita dapat menikmati The Golem's Eye dengan nyaman. Membaca buku kedua Trilogi Bartimaeus ini, tak pelak lagi, akan membuat pembaca yang telah menikmati petualangan Bartimaeus dan Nathaniel sejak buku pertama, akan tidak sabar untuk menanti jilid pamungkas kisah berlatar dunia sihir Inggris ini.

Mengutip School Library Journal (sampul belakang novel), secara keseluruhan, saya mesti bersetuju bahwa inilah, "karya fantasi yang harus dimiliki", terutama oleh penggemar novel fantasi dengan latar dunia sihir.

Salam,
Jody